Feeds:
Tulisan
Komentar

Ketegaran Yogi

Image(KM.Sarangge) Memasuki lorong di RT 03 RW 01 Kelurahan Sadia,anda akan menemukan plang nama Pangkas Rambut “ Yogi”. Nama Yogi merupakan nama samaran dari Tasrif sang tukang cukur satu-satunya di lingkungan kelurahan Sadia ini. Tasrif memulai profesi sebagai tukang cukur/pangkas rambut sejak tamat SMA pada tahun 1994. Karena ketidakadaan biaya untuk melanjutkan study, Tasrif memutuskan untuk memulai usaha sebagai tukang cukur. Hal itu juga dihajatkan untuk membantu Sang Ibu, Taku yang sudah berusia  senja semenjak ditinggal ayahandanya yang meninggal dunia sejak Tasrif masih kanak-kanak.

Lanjut Baca »

Mari Bantu Rizqi….!

Image(KM.Sarangge ) M.Kamaruddin (Rizqi ), Bocah 11 tahun asal kelurahan Kendo Kota Bima putus sekolah dan hanya bisa tidur tak berdaya setelah tangannya dipatok ular beberapa minggu yang lalu. Orang tuanya tidak mampu membawanya ke RSUD dan hanya bisa mengobati secara Tradisional. Dokter menyarankan untuk segera melakukan Amputasi utuh hingga bahu karena racun dan daging busuknya sudah mulai menyebar. Namun, lagi-lagi, karena Ketidakmampuan biaya, hanya bisa diiyakan oleh orang tuanya dan sang bocah tetap berbaring menahan perih dirumah kayu berpapan bedek ini.

Lanjut Baca »

Image(KM.Sarangge) Dalam Bahasa Indonesia Mpa’a Kawongga dikenal dengan nama “Main Gasing” (Kawongga = Gasing). Bentuk dan ukuran Kawongga dengan gasing dari daerah lain agak berbeda. Dibuat dari kayu yang keras dan kuat. Tidak mudah retak dan pecah. Dibagian kepalanya tidak dipasang paku atau kawat seperti gasing yang banyak beredar sekarang.Mpa’a Kawongga bisa dimainkan secara perorangan atau beregu. Dimainkan oleh anak-anak laki-laki umur 9 tahun sampai usia remaja. Menurut perannya, pemain Kawongga dapat dibagi dua kelompok, yang pertama disebut “Ma boe” (yang memukul) Kawongga lawan. Kelompok kedua berfungsi sebagai “Ma Te’e” (yang memasang) Kawongganya untuk dipukul atau lebih tepat dilempar oleh regu pemukul dengan menggunakan Kawongga pula.

  Lanjut Baca »

Image(KM.Sarangge ) Zaman Batu adalah masa zaman prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu (karena tak memiliki teknologi yang lebih baik). Kayu, tulang, dan bahan lain juga digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan sebagai alat memotong dan senjata. Istilah ini berasal sistem tiga zaman. Zaman Batu sekarang dipilah lagi menjadi masa Paleolitikum, Mesolitikum,Megalitikum dan Neolitikum, yang masing-masing dipilah-pilah lagi lebih jauh.

Lanjut Baca »

rimpu-sampela(KM. Sarangge) Bima merupakan salah satu Kerajaan islam tersohor di Indonesia bagian Timur. Kesohorannya hingga pernah berstatus swapraja selama kurun waktu 5-6 tahun dan hingga kini masih didapati bukti dan peninggalannya. Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan makna. Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima. Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.

Lanjut Baca »

Kebersihan Adalah Kebutuhan

Image(KM.Sarangge ) Jadikan kebersihan sebagai bagian dari kebutuhan hidup sehari hari. Membersihkan lingkungan jangan lah dilakukan pada saat saat tertentu saja. Demikian yang disampaikan Lurah Penatoi, Rifaid,S.Sos Sabtu malam (1/2) pada acara Musyawarah kampung dalam rangka pernikahan salah seorang warganya di RT 03 Penatoi. Dikatakannya, dalam rangka menyambut Kota Bima sebagai kota Adi Pura diperlukan kesadaran dan partisipasi masyakarakat dalam hal kebersihan lingkungan. ” kelemahan kita masih belum mengolah sampah secara benar, terutama bak sampah.” ungkap Rifaid. Padahal Pemerintah Kota sudah mengupayakan bak sampah organik maupun non organik.

Lanjut Baca »

Image(KM.Sarangge ) Dulu, sampai tahun 2000 kawasan ini adalah hutan tutupan negara yang sangat lebatl Arealnya mencapai puluhan ribu hektar yang membentang sepanjang jalan dari kelurahan Jatibaru Kota Bima hingga di kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Suhu udaranya cukup dingin dan sejuk, rindang dan menghijau. Di kawasan Ncai Kapenta ini juga  terdapat makam orang orang yang diduga komunis yang dieksekusi militer Indoensia pada tahunm1965 hingga 1966.Tapi kini, hutan Ncai Kapenta tinggal kenangan. Hutan telah beralih fungsi menjadi  ladang ladang warga.

Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.